Pengaruh Penyetaraan Pendidikan (Paket A, B, dan C) Bagi Anak-anak Putus Sekolah

MAKALAH

PENGARUH PENDIDIKAN KESETARAAN (PAKET A, B, dan C) BAGI ANAK-ANAK PUTUS SEKOLAH

 

 

 

 

 

 

 

 

 

JUDHO PERWIRO

23112982

#SOFTSKILL

IRA WINDARTI

 

 

KATA PENGANTAR

 

      Segala puji syukur saya panjatkan kehadirot Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan bimbingan-Nya saya dapat menyusun makalah ini.

      Makalah ini merupakan panduan bagi para mahasiswa, untuk belajar dan mempelajari lebih lanjut tentang Ilmu Penyetaraan Pendidikan ini. Yang bertujuan dapat menumbuhkan proses belajar mandiri, agar kreativitas dan penguasaan materi pelajaran optimal sesuai dengan yang di harapkan.

      Dengan adanya makalah ini di harapkan dapat membantu mahasiswa  dalam mengetahui tentang bagaimana pengaruh penyetaraan pendidikan bagi anak.

      Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan senantiasa menjadi sahabat dalam belajar untuk meraih prestasi yang gemilang. Kritik dan saran dari bapak/ ibu dan juga teman-teman tetap saya harapkan guna perbaikan dan penyempurnaan untuk belajar ke depan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penyusun

 

 

 ( penulis)

 

 

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

 

       Pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mengemban fungsi tersebut pemerintah menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional yang selanjutnya akan disingkat sebagai UU Sisdiknas 20/2003.

       Pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi serta efisiensi manajemen pendidikan. Pemerataan kesempatan pendidikan diwujudkan dalam program wajib belajar 9 tahun. Peningkatan mutu

pendidikan diarahkan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya melalui olahhati, olahpikir, olahrasa, olahraga, dan olahkarya agar memiliki daya saing dalam menghadapi tantangan global. Peningkatan relevansi pendidikan dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan berbasis potensi sumber daya alam dan sumberdaya manusia Indonesia. Peningkatan efisiensi manajemen pendidikan dilakukan melalui penerapan manajemen berbasis masyarakat dan otonomi perguruan tinggi serta pembaharuan pengelolaan pendidikan secara terencana, terarah, transparan, demokratis, dan berkesinambungan.

       Menurut UU Sisdiknas 20/2003 Pasal 13 ayat (1) ”jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya”, kemudian menurut Pasal 26 ayat (2): ”Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional” dan ayat (3) menyatakan bahwa “pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup,

pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan,

pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan

1 Disampaikan dalam Workshop Tutor Pendidikan Kesetaraan PKBM Ngudi Kapinteran Semanu, tgl 16 Maret 2010

2 Dosen Jurusan Pendidikan Luar Sekolah FIP UNY

Materi PPM PKBM Ngudi Kapinteran Page 2 kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan

peserta didik”.

       Dengan demikian pendidikan kesetaraan menekankan keterampilan dan

kepribadian profesional. Pendidikan kesetaraan adalah program pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan umum setara SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA yang mencakup program Paket A, Paket B dan Paket C. Penyetaraan hasil belajar pendidikan kesetaraan diatur oleh Pasal 26 ayat (6) UU Sisdiknas 20/2003: ”Pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan”. Dengan demikian mengenai setara adalah sepadan dalam civil effect, ukuran, fungsi dan kedudukan. Pendidikan kesetaraan meliputi Paket A setara SD, Paket B setara SMP dan Paket C setara SMA, yang ditujukan bagi peserta didik yang berasal dari masyarakat yang kurang beruntung, tidak pernah sekolah, putus sekolah dan putus lanjut serta usia produktif yang ingin meningkatkan pengetahuan dan kecakapan hidup, dan warga masyarakat lain yang memerlukan layanan khusus dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai dampak dari perubahan peningkatan taraf hidup, ilmu pengetahuan dan teknologi. (Depdiknas, 2006)

       Sementara Unesco mendefinisikan pendidikan kesetaraan sebagai: An Equivalency program is defined as an alternatif educational program equivalent to existing formal  general or vocational education.

       Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan mengatur standar nasional pendidikan, yaitu: standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Dokumen ini membahas standar isi sebagaimana dimaksud oleh Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005. Standar isi secara keseluruhan mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai standar kompetensi lulusan pada pendidikan kesetaraan yang terdiri atas sejumlah mata pelajaran yang sama dengan pendidikan formal, untuk kepentingan ujian penyetaraan tingkat nasional; dan sejumlah mata pelajaran yang menekankan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.

 

1.2  Tujuan

        Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan keefektivan acuan pedagogi dan andragogi sebagai upaya perbaikan pelaksanaan pembelajaran pendidikan kesetaraan paket A, B dan C. Desain penelitian adalah penelitian tindakan praktis (practical action research. Populasi penelitian adalah tutor pendidikan kesetaraan kejar Paket A, Paket B dan Paket C di Kota Semarang yang masih aktif. Sampel ditetapkan secara purposive random sampling.Teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi, analisis data dengan deskriptif kualitatif dan statistik uji t test. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas tutor telah dapat menerapkan acuan pedagogi dan andragogi pada tahap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran dengan baik. Respon tutor terhadap acuan adalah secara substansi kurang operasional, belum dikaitkan dengan konteks masalah yang beragam, masih bersifat teoritis. Tutor dituntut mengembangkan kreativitasnya untuk mampu menerapkan acuan. Dari segi teknis penulisan pengorganisasian ide, sangat runtut, utuh sehingga mudah dibaca dan dipahami. Penerapan acuan dalam pengelolaan pembelajaran efektif untuk meningkatkan kompetensi peserta didik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

       Dari data Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kementrian Pendidikan Nasional pada tahun 2010, tercatat kurang lebih 1.496.721 guru di Indonesia yang harus menjalani penyesuaian pendidikan, dan jumlah itu bisa bertambah saat ini. Terutama karena mereka belum berstatus Sarjana Strata 1. Jumlah tersebut adalah 51% dari jumlah total keseluruhan guru yang ada di Indonesia.  Dari jumlah tersebut kurang lebih 1.210.000 di antaranya adalah mereka yang sebenarnya sudah memiliki pengalaman mengajar lebih dari lima tahun.

       Konsep penyetaraan strata akademis memang perlu dilakukan, namun dengan cara mengikutkan guru pada jenjang perkuliahan regular menurut saya) sungguh tidak praktis dan merugikan banyak pihak. Sebagai gambaran, guru yang sudah memiliki pengalaman mengajar lebih 5 (lima) tahun, sudah semestinya memiliki pengetahuan mengajar sebanding atau bahkan lebih dengan guru baru yang memiliki gelar sarjana, sehingga dirasa mubazir bila mereka juga harus mengikuti perkuliahan yang regular, karena sebagian besar ilmu yang akan mereka dapat adalah materi yang sudah mereka miliki.

       Pak Sarjono, seorang guru SD saat ini berusia 46 tahun, terpaksa mengikuti penyetaraan dan ikut kuliah regular pada sebuah universitas yang memang ditunjuk. Jenjang yang harus ditempuh  pak Sarjono memang mulai dari penyetaraan D2 yang telah ia jalankan sebelumnya. Bila memang mulus jalan kuliahnya, ia akan mendapat gelar kesarjanaannya ketika ia berusia 49 tahun, padahal ia akan harus mulai bebas tugas ketika ia berusia 54 tahun nantinya.  Itu berarti strata kesarjanaan pak Sarjono hanya dibutuhkan secara efektif selama 3 sampai 4 tahun masa kerjanya saja.

Bila secara kasar setiap guru tersebut bertanggung jawab terhadap masing-masing 30 (tigapuluh) murid saja maka, sejumlah 36.300.000 (tigapuluh enam juta tigaratus ribu) siswa Indonesia sungguh dirugikan dengan program penyetaraan ini setiap tahunnya, karena dalam kenyataannya, guru-guru yang mengikuti penyetaraan ini fokus perhatiannya menjadi terbelah, antara harus konsentrasi pada kuliah dan tugas mengajarnya. Walau memang mereka melakukan kegiatan perkuliahan pada waktu di luar jam kerja, tetapi tetap saja hal tersebut mengganggu konsentrasi tugas mengajarnya.

       Agar program penyetaraan ini tidak cenderung  dirasakan oleh banyak pihak sebagai proyek penghabisan anggaran yang tidak sangat efektif bagi kemajuan pendidikan di Indonesia, maka memang perlu kiranya pemerintah merubah konsep penyetaraan ini dengan modul yang lebih praktis misalnya dengan sertifikasi penyesuaian golongan dan jabatan misalnya, sehingga mereka tidak terlalu banyak beban pemikiran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

       Mayoritas tutor pendidikan kesetaraan Paket A, B dan C menerapkan acuan pedagogi dan andragogi sudah sangat sesuai dengan ketentuan yang tertera pada acuan dengan kriteria sangat baik pada tahap perencanaan, pelaksanaan dan penutup. Kekurangan pada sebagian tutor adalah belum dapat menyiapkan rencana operasional kegiatan pembelajaran dalam wujud silabus, belum dapat menerapkan acuan dengan baik dalam hal pengelompokkan peserta didik berdasarkan usia (pelayanan keragaman peserta didik), belum mampu melakukan kegiatan penilaian proses (non-tes) sesuai dengan acuan.

       Persepsi tutor terhadap keberadaan buku acuan dari sudut pandang teknis penulisan karya ilmiah, menyatakan keruntutan /pengorganisasian ide dan keutuhan gagasan yang dituangkan dalam tulisan sudah sangat baik, sehingga sangat mudah dipahami atau dimengerti. Namun perihal isi substansi dinilai tutor masih sangat teoritis, langkah-langkah pembelajaran belum dijelaskan secara operasional /konkrit sesuai dengan keragaman kharakteristik peserta didik maupun sesuai konteks permasalahan lingkungan yang beragam.

       Kendala penerapan acuan pedagogi dan andragogi adalah terbatasnya pengetahuan dan pengalaman tutor dalam mengelola pembelajaran yang berorientasi pada kharakteristik orang dewasa yang beragam, terbatasnya fasilitas sarana dan prasarana untuk memberikan praktik, dan terbatasnya media pembelajaran untuk demonstrasi. Pendukungnya adalah sikap pragmatis dan kreativitas tutor untuk mengembangkan pembelajaran sesuai dengan masalah kontekstual sebagaimana teori andragogi.

       Acuan pedagogi dan andragogi efektif diterapkan pada peserta didik pendidikan kesetaraan program Kejar Paket A, B dan C. Pencapaian kompetensi peserta didik tercermin dari nilai rerata peserta didik berbeda secara signifikan sebelum dan sesudah tutor mengelola pembelajaran dengan menggunakan teori andragogi.

 

 

3.2 Saran

       Acuan pedagogi dan andragogi perlu dijabarkan lebih konkrit atau operasional berdasarkan keragaman kharakteristik peserta didik orang dewasa dan konteks lingkungan, sehingga tutor dapat lebih mudah menerapkannya.

Fasilitas sarana dan prasarana pembelajaran untuk menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran yang dikelola dengan andragogi perlu disediakan secara mamadai.

       Pelatihan tentang penyusunan silabus dan penilaian proses (non-test) berbasis kompetensi yang ditujukan bagi tutor pendidikan kesetaraan program kejar paket A, B dan C perlu dikembangkan lebih intensif, sebab pada umumnya para tutor kesulitan untuk kedua jenis kegiatan ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Balitbang Depdiknas. 2003. Pelayanan Profesional Kurikulum 2004. Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif. Puskur Balitbang Depdiknas .Jakarta.
  2. Cross, P K. 1981. Adults As learners. Increasing Participation and Facilitating Learning. Jossey-Bass Inc., Publisher. New York, USA.
  3. Hatimah, Ihat. 2007. Pembelajaran Berwawasan Kemasyarakatan. Buku Materi Pokok UT. Universitas Terbuka
  4. Knowles, M S; Holton E F; & Swanson, R A. (1998). The Adult Learner. Gulf Publishing company. Houston – Texas, USA.
  5. Lestari, Puji. 2006. Acuan Pedagogi dan Andragogi Pendidikan Kesetaraan Program Paket A, B dan C. Direktorat Pendidikan Kesetaraan Dirjen PLS Depdiknas. Jakarta.
  6. Lunandi, A G. 1987. Pendidikan Orang Dewasa. Sebuah uraian praktis untuk pembimbing, penatar, pelatih dan penyuluh lapangan. PT Gramedia, Jakarta Pusat Kurikulum.
  7. Mills, Geoffrey E. 2000. Action Research: A Guide for the Teacher Researcher. New Jersey: Merrill an imprint of Prentice Hall.
  8. 8.      Panen, P dan Ida M.S. 2001. Pembelajaran Orang Dewasa, PAU-PPAI Dirjen Dikti, Diknas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s